Pouring my noisy minds into weird words
Nothing special--- just me and my poor writing skills
Kamis, 17 Agustus 2023
Minggu, 18 September 2022
A Kind-hearted Polish Girl
Poland, 22nd of October 2021
I do believe that there will always be an angel in every corner of this world. When I arrived here in Poland on October 08, 2021 I was alone and confuse while bringing my two heavyweight suitcases (42 Kg). I might look miserable to the native people there. What a pitiful petite hijab stranger lol. Also, when I registered myself to the dorm, unfortunately, the Ochrona (red: security in Polish) did not speak English which added to my confusion.
Karolina was there and helped me a lot. She translated what the Ochrona said, brought my suitcases to my room, took me to the city center in the next day to get my PESEL number, bought some puffer jackets, exchange my money, and tried Polish dumplings called Pierogie. Not only that, she is very welcome if I need help or want to ask anything. Such a beautiful, warm and kind hearted women. I feel blessed to have her as my very first friend here.
Additionally, I got another misfortunate accident. My phone lost on the bus. It might be fallen since here in Poland there are rarely pickpockets (I do blaming myself for being so careless) and again I ask her to help me with that such situation. She tried to called some people (Idk who were that exactly), yet, as it was going late there were no responses. One of my senior friends (Ka Casilda) suggested me to come to the ZTM (a company that runs buses and trams here) to make a report. Karolina could not be able to accompany me as she had full of schedules on that day, instead, she wrote a letter in Polish so the Customer Service in ZTM will understand me immediately. The CS women gave a number to call and Karolina did that for me. Besides, during my losing phone period she lent me her phone, I was wondering what's make her trust me so much to lend it to a stranger friend she has only known for about 2 weeks. I really have no idea what will happen to me if she did not lend me her phone. Therefore, I think saying thank you is not enough and I owe her countless. I don't know what I have to do so I can repay all of her kindness which I will cherish forever. I am sure she will reap what she sows in the future. May luck always surround her on and on Aamiin
It might take a long story to write it all completely. In short- I could not be able to find my phone and bought a new one. In order to afford a new phone, I have to wait for my two months monthly stipend. It was moooore than enough to drain my student pocket but it's okay, May Allah grants me with another big sustenance (red: rejeki) aamiin allahumma aamin (Thanks for saying aamiin friends hehe)
Lastly, to celebrate the euphoria of Christmas day, Karolina and I had an exchange gift celebration. Since Karolina is such a religious girl so I gave her a typically Christian cross necklace and I got a warmer hand with a lot of chocolates, hmmm yummy! That gift was really useful for me to survive in my very first winter experience since my fingertips always felt freezing cold and sometimes, due to, always losing something that I hold. Karolina is another angelic young lady that I met here in Poland. Thank you so much Karolina 💖
A Little Story of a Stubborn Girl with Her Dreams
Bayangan tentang kuliah keluar negeri terbesit saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun karena masih labil dan proses pencarian jati diri, impian tersebut adalah impian yang samar dan cenderung berubah-ubah. Pada tahun 2018, impian masa kecil tersebut kembali muncul saat aku melakukan Study Lapang Terintegrasi ke Thailand sebagai salah satu program dari kampus S1 ku. Tiba-tiba terbesit dalam benak “Wah sepertinya asyik kalo bisa S2 ke luar negeri”. Yah...bagaimana tidak, merasakan euforia ke luar negeri, bertemu dan berteman dengan foreigners, merasakan pengalaman menimba ilmu di lingkungan berbeda dengan menggunakan bahasa inggris, serta berkesempatan jalan-jalan di luar negeri membuat hatiku sungguh berdesir. Selain itu, aku ingin meringankan beban keluarga ku dengan cara mencari beasiswa. Merasa sudah banyak dibiyai saat sekolah S1, sehingga ketika S2 nanti aku ingin mandiri tanpa merepotkan mereka lagi. Prinsipku saat itu adalah “Aku gak akan lanjut kuliah S2 jika bukan dari beasiswa”. Terdengar sungguh sangat naif untuk seseorang dengan prestasi dan kemampuan yang biasa saja. Tak apa, semua orang memang harus ‘keras kepala’ terhadap mimpinya. Motto itu aku pegang erat sebagai ‘bahan bakar’ awal dalam proses pencarian beasiswa. Bismillah…
(The first pic that I took as I arrived in Poland)
Setelah wisuda dan resign sebagai asisten laboratorium biologi, aku pun berangkat untuk kursus di Pare selama 2 minggu pada Januari 2020. Merasa masih cupu dengan bahasa inggris, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil lagi kursus persiapan IELTS di Malang selama 2 bulan. Tak diduga ternyata pandemi datang, kelas yang harusnya dimulai pada bulan Maret akhirnya harus ditunda setelah pertemuan 1 minggu. Aku pun ‘dirumahkan’ selama hampir 6 bulan. Sungguh waktu yang sangat lama dan terbuang sia-sia. Rencana untuk mengambil test IELTS pada bulan Mei/Juni pun akhirnya harus ditunda. Ibarat deretan domino jatuh, hal tersebut pun kemudian berimbas pada rencana aplikasi beasiswa pada bulan September/Oktober. Beberapa beasiswa memang telah membuka pendaftaran pada waktu itu, namun karena belum memiliki sertifikat IELTS, akhirnya aku hanya bisa menelan ludah. Kemudian pada bulan September kursus kembali dimulai. Setelah menerima hasil post-test, lagi-lagi aku masih merasa belum begitu yakin untuk mengambil test IELTS. Bagiku ini adalah test yang sangat menegangkan dan penuh resiko. Bukan hanya karena materi testnya yang sangat sulit, tapi karena biaya nya juga mahal sehingga aku harus mempertimbangkan secara matang sebelum mendaftar test IELTS.
Aku pun memutuskan untuk menambah kursus semi-private selama 12 kali pertemuan. Bahkan setelah kursus semi-private, aku masih belum begitu yakin dengan kemampuan Bahasa inggrisku. Tapi mau tidak mau aku harus berani mengambil langkah, karena jika tidak demikian maka selamanya aku hanya akan stuck di satu titik ini dan tidak akan pernah maju. Waktu terus berjalan dan impian ku menuntut untuk diperjuangkan. Kemudian pada akhir Desember 2020, akhirnya aku memberanikan diri mendaftar test IELTS. Karena pandemi dan beberapa pertimbangan, aku memutuskan untuk mengambil tes di Bali. Alhamdulillah testku berjalan lancar. Aku yang biasanya panik, deg-deg an, atau blank tiba-tiba merasakan ketenangan yang luar biasa 5 menit sebelum test. Terlebih saat segment writing dan speaking yang menurutku part paling susah, serasa ada ‘sesuatu’ yang menuntunku untuk menjawab test tersebut. Alhamdulillah, semua berkat bantuan Allah dan aku puas dengan hasil test ku. Akhirnya ‘kunci awal’ ini kudapatkan. Tentu saja itu hanyalah sebuah kunci awal dan perjalanan masi panjang untuk dilalui.
Pada awal tahun 2021 ada banyak beasiswa yang sudah buka. Tidak ingin melewatkan kesempatan akupun mencoba mendaftar Stipendium Hungaricum. Sembari menunggu pengumuman aku mencoba peluang untuk mendaftar di beberapa beasiswa lain karena aku sangat paham bahwa mendapatkan beasiswa bukanlah perkara mudah dan tidak semua orang bisa berhasil hanya dalam percobaan pertama. Cukup susah untuk menemukan beasiswa yang menawarkan bidang microbiology sesuai minatku. Setelah mencoba mencari informasi beasiswa dan mencocokkan requirements mereka dengan profilku, aku mencoba untuk mendaftar di program Erasmus untuk bidang Environmental Protection and Toxicology (ECT+). Meskipun sebenarnya ragu untuk mendaftar karena bidang tersebut adalah lingkungan tapi setidaknya mencoba saja dan berpegang pada berprinsip ‘siapa tau rejeki’.
12 Maret 2021, aku pun menerima notifikasi email dari Stipendium Hungaricum yang menyatakan bahwa aku gagal. Aku merasa sedih tentunya karena merasa sangat cocok dan excited dengan silabus yang ditawarkan. 31 Maret 2021, aku mencoba membuka website pendaftaran di ECT+. Saat mendaftar di ECT+ ini sebenarnya aku merasa sedikit ‘lempeng’ dan tidak begitu niat karena bidangnya yang sedikit melenceng dari field interest ku. Hasilnya sudah bisa ditebak, aku dinyatakan sebagai reserved/waiting list. Sebuah status yang sangat abu-abu dan menggantung. Tidak ditolak tapi juga belum tentu diterima. Jika ada peserta main list yang mundur aku bisa saja maju untuk menggantikan posisi tersebut. Dan jika tidak ada main list yang mundur, aku juga sebenarnya bisa mengambil kesempatan untuk tetap kuliah di program ECT+ dengan menggunakan beasiswa partial yang ditawarkan dari pihak universitas. Namun meskipun demikian, beasiswa partial bukanlah sebuah pilihan bagiku. Tidak mampu rasanya jika harus membayar sendiri sisa biaya tuition fee dan daily expenses di Europe. Akhirnya kulepaskan kesempatan tersebut dan berguman pada diri sendiri, “Tidak apa, mari kita cari kesempatan yang lain, all roads lead to Rome”.
Berlanjut ke proses pencarian beasiswa selanjutnya, aku mencoba untuk mendaftar di GKS (Global Korea Scholarship). Setelah membaca beberapa website dan menonton beberapa video di youtube, aku mengambil kesimpulan bahwa jika ingin mendapatkan beasiswa di Jepang/Korea akan lebih mudah diterima jika telah memiliki supervisor terlebih dahulu. Aku pun mencoba mengirimkan banyak email ke beberapa dosen di Korea sebelum proses pengajuan aplikasiku di GKS. Terhitung setidaknya ada 10 dosen yang aku email dan dari 10 dosen tersebut hanya satu yang membalas dan menerima proposalku. Hatiku sungguh bersorak riang karena merasa impian untuk bisa kuliah dan liburan di Korea dengan beasiswa semakin dekat. Aku pun lolos di tahap pertama GKS ini. Namun sayang sekali, meskipun aku sudah memiliki supervisor aku dinyatakan belum lolos di tahap kedua. Dari beberapa peserta Indonesia yang mendaftar di kampusku, posisiku ada di nomor 2 dan yang berhasil lolos hanyalah satu orang. Lagi-lagi aku hanya sampai pada titik ‘hampir berhasil’ dan tidak benar-benar berhasil. Bohong namanya jika tidak merasa sedih saat tau terjerembab lagi pada jurang kegagalan yang sama. Ini adalah penolakanku yang ketiga kalinya. Semangat yang awalnya menggebu-gebu kini perlahan mulai hilang. Terlebih lagi waktu itu keluargaku sudah sering bertanya perihal kelanjutan kuliah S2 yang tak kunjung ada kabar baik. Karena merasa belum menemukan titik jalan yang terang, sempat terbesit untuk berbelok arah dan mencoba mendaftar di kampus dalam negeri saja tanpa beasiswa. Mungkin ini saatnya aku ‘mengendorkan’ sifat keras kepalaku dan menyerah saja. Tapi ada hati yang tidak rela, sifat keras kepalaku memberontak, impian untuk sekolah dengan beasiswa dan tak ingin merepotkan keluarga selalu mengikutiku, dan itulah yang membuatku untuk tetap bertahan di jalur yang sama. Akhirnya aku mencoba memberi kabar pada calon supervisor ku di Korea tentang hasil pengumuman GKS. Beliau menyemangatiku dan mengatakan untuk jangan patah semangat dan mencoba lagi karena belajar di luar negeri memberikan kesempatan yang luar biasa untuk meningkatkan kemampuan diri dan menambah pengalaman. Baiklah…mungkin ini bukan saatnya untuk benar-benar menyerah dan mencoba peruntungan sekali lagi.
Proses aplikasi beasiswa yang keempat adalah Stefan Banach Scholarship dari pemerintah Polandia. Masih merasakan sisa-sisa patah semangat karena penolakan sebelumnya, di proses aplikasi beasiswa ini aku mencoba benar-benar ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada Yang Diatas. Bahkan hari pengumumannya saja aku tidak begitu peduli karena mungkin saja aku sekali lagi akan menerima penolakan. Ah…luka lama saja belum kelar. Grup beasiswa pun ramai dengan ucapan selamat bagi peserta yang lolos. Aku hanya bisa menatap nanar membaca semuanya karena aku masi beranggapan bahwa mungkin aku akan gagal lagi. Kemudian teman dekatku yang sesama scholarship hunter mengabari tantang hasil pengumuman. Dia menanyakan tentang hasilku yang kujawab tidak tahu dan belum siap untuk membukanya. Tapi karena aku menerima notifikasi email dari NAWA (Pemerintah yang memberikan funding untuk scholarship ini) tentang perubahan status aplikasi ku di website, akhirnya dia mendesak untuk segera membuka hasilnya pada malam itu. Masih dilingkupi perasaan pessimistic, kuturuti saja maunya dan minta tolong untuk melihat hasil pengumuman di akun ku. Aku merasa tanganku gemetar saat membaca hasilnya dan tak terasa air mataku jatuh menetes. Alhamdulillah aku diterima dan mengakhiri masa quarter life crisis ku saat ini. Bukan main senangnya waktu itu, semalaman aku tidak tidur hanya demi memandangi hasil pengumuman beasiswa yang akhirnya dapat lampu hijau. Ternyata saat dititik aku benar-benar menyerah, sedih, dan ikhlas Allah memberikan kesempatan dan menjawab doa-doa ku. Impian yang semula samar dan tak mungkin kini mulai terlihat jelas. Kunci yang selama ini aku idam-idamkan akhirnya bisa aku pegang. Oh…ternyata begini rasanya ketika akhirnya bisa memiliki sesutau yang sangat amat diimpikan. Tak terkira senangnya.
Itu hanyalah secuil kisah dan tentu ini bukanlah sebuah akhir. Perjalanan masi panjang dan beberapa rintangan pasti telah menunggu di depan. Tak apa, hidup tak akan indah tanpa adanya batu-batu yang menghalangi. Manusia tak akan pernah bisa berkembang jika hanya melewati jalan yang mulus. Satu hal yang yang menjadi prinsipku saat ini adalah bahwa perjalanan setiap orang berbeda-beda. We gonna bloom in our unique way. Tak perlu membandingkan dengan garis finish orang lain karena tak ada yang lebih maju ataupun lebih lambat. Bismillah, semoga semuanya dikuatkan untuk mengarungi perjalanan di tapak takdirnya sendiri. Istirahatlah bila lelah, bukan berhenti, dan jangan lupa bersikap baik pada diri sendiri.
Kamis, 30 Desember 2021
[ENG VERSION] Alina and The Fairy Godmother
Alina is a honey bee who was living with the Fairy Godmother since her childhood. The Fairy Godmother took care of her really well, and to Alina the Fairy Godmother was everything.
As the years passed, it was finally the time for Alina to attend the academy. At the academy school, Alina was taught calculations, personality classes, and the theory of making quality honey. Alina is such a lazy student even though the Fairy Godmother has always told her to study hard since childhood. "Be a successful honey bee later Alina, study well," said the Fairy Godmother. Always. Alina was trying to learn and it was proven that Alina was one of the honey bee students who was quite proficient at her school. The Fairy Godmother was happy. Fairy Godmother thought that someday Alina would be able to produce quality honey and then sell it.
2 years later Alina graduated from the academy school. The test scores were good. But unfortunately, Alina couldn't immediately produced a good quality honey like Fairy Godmother had hoped. The honey that Alina produces was always be a strange color, sometimes the taste was also strange. "Ah, it's so hard to make good honey and it's not that easy to find sweet nectar," said Alina. Finally Alina decided to wander around a bit and learn to make honey from other bees. The Fairy Godmother was wondering. Why did Alina wander and why did her not produce the quality honey she hoped for. “Alina…what are you doing? Why are you walking around aimlessly? Go home instead of wasting time on things that have no apparent benefit” commanded the Fairy Godmother. Alina was a little disappointed, Alina hasn't finished learning from the bees yet but the Fairy Godmother has sent her home. "Hm...it's okay I can study on my own later," Alina muttered.
Afterwards, Alina returned to the Fairy Godmother's house. There, Alina helps to take care of the Fairy Godmother's little pet named kunang (a firefly). Every day Alina feeds her and cleans the firefly. Alina also takes care of the Fairy Godmother who has recently started to get sick. Sometimes Alina steals time at night to study with the bees how to make honey. The Fairy Godmother did not know this because Alina was hiding it. Alina wants to surprise the Fairy Godmother with some good honey that she produces later. "Let the Fairy Godmother not know the process, the important thing is that the Fairy Godmother will be happy when I finally give her good honey," thought Alina at that time.
3 months have passed, Alina is still Alina. She has not been able to produce quality honey. Even though he tried many times, the honey she made was always strange or failed. Alina was sad but Alina doesn't want to show it.
On the other hand, the situation is different now, Alina is not a little bee anymore like she used to be. Now she is an adult and like other adult bees, Alina should have produced good honey. Alina cursed herself. Not to mention the fact that as an adult bee, living with the Fairy Godmother is now not completely free. After all, Alina had to help the Fairy Godmother.
Alina continued her activities as usual, taking care of firefly, caring for the Fairy Godmother, and secretly going to study with the bees at night.
But the Fairy Godmother was getting impatient. It's been almost a year since Alina graduated from the Academy school but Alina hasn't been able to produce good honey until now. The Fairy Godmother still behaves well, even though the Fairy Godmother is actually furious with Alina's 'helplessness'. Fairy Godmother hopes Alina can produce good honey since Alina was pretty good at academy school. Fairy Godmother thought Alina could be a successful honeybee in the future, not a honeybee that produces nothing and only cares for firefly every day.
The fairy godmother was furious, really furious. But the Fairy Godmother didn't show that fury to Alina. The Fairy Godmother just cursed behind her back, sometimes also talking about Alina's uselessness to the other Elves. "Hufft...going to the Academy school is useless if in the end she only takes care of fireflies and doesn't produce anything" said the Fairy Godmother when she met the other fairies. Alina overheard those words. Alina was sad and disappointed because the words came precisely from the Fairy Godmother, the figure that Alina considered everything all this time. Alina cursed herself even more, what the Fairy Godmother said was true. Alina couldn't do anything and was useless. What Alina learned was useless all this time. The Fairy Godmother took care of Alina for nought.
Alina tried to bury her sadness, Alina doesn't want to remember the painful words from the Fairy Godmother. But those words have been ringing in Alina's mind for the past month. Couldn’t hold it anymore, Alina packed her clothes early in the morning and hung a 'goodbye' letter on the door of her room. Alina leaves from the Fairy Godmother's house.
Alina is not completely wandering and homeless, she has a dusty empty house as a place to escape. After living in an empty house for 2 months, Alina finally got the good news to be able to go to study at a level two Honey Academy School for free. Of course, Alina did not get that good news instantly. Alina has to go through a fairly bitter process and Alina wants to keep the bitterness only to herself without the Fairy Godmother knowing. Alina thought that she could surprise the Fairy Godmother if she succeeded later. Unfortunately, the Fairy Godmother is impatient. But Alina was also wrong, Alina who has typically introvert characteristics made the Fairy Godmother thought something was going wrong. Anyone would think so if they saw Alina. Alina is lazy and useless.
Now Alina is studying where the Honey Academy School comes from. Even though it's called the Honey Academy, Alina didn't learn how to make honey there. Alina learns to interpret life, that life is a process and there are many failures in it. In ‘a cup’ of so called a life, there are many beautiful flowers with their own characteristics. The flowers have their own process of blooming, they don't have to bloom at the same time because this is not a competition. "Everything will end beautifully, everything will bloom in its time and never underestimate the process of blooming a flower" Alina murmured with a smile.
Then Alina felt a hand pat her from behind, after a while, the clapping turned into a shaking. Ah, apparently Alina fell asleep and her father woke her up. Hufft… it turns out that Alina is only dreaming in broad daylight. Alina the sleepyhead. Aaarrrggghhh 😩
But wait. Isn't Alina's father has gone? Then... who woke her up?
The end-
🎶 : All by myself-Celine Dion
[Only a fiction]
Note:
Poor words...this story need to be revised into upgraded version as I am not perfect in english. Hence, I am very welcome for your corrections and suggestions. Just let me know so I can fix it. Thank you in advance! 😊
Rabu, 29 Desember 2021
An Angelic Old Lady
Poland, 26th of October 2021
This story happened when I just arrived in Poland for about 2 weeks.
( Personal documentation )
During the last 2 days, I heard about the racist news my senior experienced in Warsaw. It makes me a little worried that it might happen to me in the future, naudzubillah…
Well, this morning I went to a library by a bus. I didn't have any plan to go out in that day but I wanted to help my senior who just forgot her phone in the library. Right after I sat, the lady in front of me was saying hello. I replied her greeting and smiled to her. Afterwards, the lady offered and gave me 2 oranges and some breads for breakfast, which of course surprised me. Wow.. how good she was! As a moslem minority which wearing hijab here, I mostly got a gaze by the native from up to toe. It’s just a staring and there is nothing to be worried for sure. But waiiiitttt…. this was my first time to meet a stranger (or maybe I am a stranger here haha) who suddenly gave her meals to me. I said thanks to her and she stroked my hand. I feel so touched 😢
( Personal documentation )
Then we talked which of course I didn't understand because it was in Polish (thanks to the google translate then). While talking, she often rubbed my hands and head like I was her daughter. I honestly was crying quietly as I remember and do miss my mom up above there. Some of the people on the bus finally also joined in on our conversation. They were asking me where I come from, what I am doing here etc. I felt a warm atmosphere at that time even though the weather was 10 degrees. 30 minutes on the bus went by like a blink of an eye.
We both got off at the bus last stop (at Katowice Piotra Skargi) and before separating she hugged me tightly while saying Dziękuję Ci repeteadly. She rubbed my head again and gave me some money. I rejected it but she persisted and said that I was like her own daughter. I can’t hold back my tears anymore and I cried a lot. I was still crying even when I was on my way to the library which ofc made more people stared at me like…what’s going on to this girl huh? I don’t care. I was wondering what I have done this morning to deserve meet her, a lady with an angelic heart.
( I asked to take her pic )
Well, I asked her address but unfortunately she lives in Poznan which 4 hours from here. Yet, she said that she will have a medical check on 23 November and I do hope I can meet her again aamiin. I knew her name but I don’t know whether I will write it right or no. It pronounced as Basya/Basha. I am not sure about the writing 😕
Alina dan Ibu Peri
Alkisah Alina dan Ibu Peri.
(Illustrated by me)
Alina adalah seekor lebah madu yang hidup dan tinggal bersama Ibu Peri sejak kecil. Ibu peri merawatnya dengan baik, dan bagi Alina Ibu peri adalah segalanya.
Tahun demi tahun dilalui akhirnya tibalah bagi Alina untuk Sekolah Akademi. Di Sekolah Akademi, Alina diajarkan perhitungan, kelas kepribadian, dan teori membuat madu berkualitas. Alina adalah murid yang pemalas meski Ibu peri selalu menyuruhnya untuk rajin belajar sejak kecil. “Jadilah orang sukses kelak Alina, belajarlah dengan baik” begitu ucap Ibu Peri. Selalu. Alina berusaha belajar dan terbukti Alina termasuk salah satu murid yang cukup mahir di sekolah. Ibu Peri senang. Ibu Peri berpikir kelak nanti Alina bisa memproduksi madu berkualitas untuk kemudian dijual.
Dua tahun kemudian Alina lulus dari Sekolah Akademi. Nilai ujiannya termasuk bagus. Tapi sayang, Alina tidak bisa langsung menghasilkan madu berkualitas seperti harapan Ibu Peri. Madu yang dihasilkan Alina selalu berwarna aneh, terkadang rasa nya pun juga aneh. “Ah susah sekali membuat madu yg bagus dan ternyata tidak semudah itu menemukan nektar yang manis” ucap Alina. Akhirnya Alina memutuskan untuk sedikit mengembara berkeliling dan belajar membuat madu dari lebah-lebah lainnya. Ibu Peri heran. Mengapa Alina mengembara dan mengapa Alina tidak menghasilkan madu berkualitas seperti harapannya.
“Alina…apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu berkeliling tidak jelas seperti itu ? Pulanglah daripada buang-buang waktu dengan hal-hal yang kurang jelas manfaatnya” perintah Ibu Peri. Alina sedikit kecewa, belum selesai Alina belajar dari lebah-lebah tapi Ibu Peri telah menyuruhnya pulang. “Hm…tak apa aku bisa belajar sendiri nanti” guman Alina.
Akhirnya Alina pulang ke rumah Ibu Peri. Disana Alina membantu merawat peliharaan kecil milik Ibu peri yang bernama kunang. Setiap hari Alina memberinya makan dan membersihkan kunang. Alina juga merawat Ibu Peri yang akhir-akhir ini mulai sakit-sakitan. Terkadang Alina diam-diam mencuri waktu di malam hari untuk belajar bersama lebah-lebah tentang cara membuat madu. Ibu Peri tidak tau hal tersebut karena memang Alina menyembunyikannya. Alina ingin memberi sedikit kejutan pada Ibu Peri dengan madu bagus hasil produksinya nanti. “Biarlah Ibu Peri tidak tau prosesnya, yg penting nanti Ibu Peri akan senang ketika akhinya kuberi madu yg bagus” pikir Alina saat itu.
Tiga bulan berlalu, Alina tetaplah Alina. Dia belum bisa menghasilkan madu yang berkualitas. Berkali-kali mencoba pun madu buatannya selalu aneh atau pun gagal. Alina sedih tapi Alina tidak ingin menunjukkannya.
Namun situasi kali ini berbeda, Alina bukanlah lebah kecil lagi seperti dulu. Kini ia telah dewasa dan sebagaimana lebah dewasa lainnya, Alina seharusnya sudah memproduksi madu yg bagus. Alina mengutuk dirinya sendiri. Belum lagi kenyataan bahwa sebagai lebah dewasa, tinggal bersama Ibu Peri kini tidak sepenuhnya gratis. Bagaimanapun Alina harus membantu Ibu Peri.
Alina tetap melanjutkan aktivitasnya seperti biasa, merawat kunang, merawat Ibu Peri, dan diam-diam pergi belajar bersama lebah-lebah ketika malam hari.
Namun Ibu Peri mulai tidak sabar. Sudah hampir setahun sejak Alina lulus dari sekolah akademi tapi Alina belum bisa menghasilkan madu yg bagus sampai sekarang. Ibu peri tetap berperilaku baik, meski sebenarnya Ibu Peri geram dengan ‘ketidakberdayaan’ Alina. Ibu Peri berharap Alina bisa menghasilkan madu yg bagus karna Alina termasuk mahir di sekolah akademi. Ibu Peri pikir Alina bisa jadi lebah madu yang sukses, bukan lebah madu yang tidak menghasilkan apa-apa dan hanya merawat kunang setiap hari.
Ibu peri geram, benar-benar geram. Tapi Ibu Peri tidak menunjukkan kegeraman itu pada Alina. Ibu Peri hanya mengumpat di belakang, terkadang juga membicarakan ketidakbergunaan Alina pada Peri lainnya. “Hufft…tak berguna juga pergi ke sekolah akademi jika ujung-ujungnya hanya merawat kunang dan tak menghasilkan apa-apa” ucap Ibu peri kala itu ketika bertemu dengan peri lainnya. Alina tak sengaja mendengarnya. Alina sedih dan kecewa karna kata-kata itu keluar dari Ibu Peri, sosok yang Alina anggap segalanya selama ini. Alina makin mengutuk dirinya sendiri, apa yang diucapkan Ibu Peri memang benar. Alina tidak bisa apa-apa dan tak berguna. Apa yang dipelajari Alina tidaklah berguna selama ini. Ibu Peri sia-sia merawat Alina.
Alina berusaha mengubur kesedihannya, Alina tak ingin mengingat kata-kata yang menyakitkan dari Ibu Peri. Tapi kata-kata itu selalu terngiang di benak Alina selama sebulan belakangan ini. Tak tahan, pagi-pagi Alina mengemas pakainnya dan menuliskan selembar surat ‘pamit’ di pintu kamarnya. Alina pergi dari rumah Ibu Peri. Maafkan Alina Ibu Peri.
Alina tidak sepenuhnya mengembara dan menggelandang, dia memiliki rumah kosong yang berdebu sebagai tempat pelarian. Setelah tinggal di rumah kosong selama dua bulan, Alina akhirnya mendapat kabar baik untuk bisa pergi belajar ke Sekolah Akademi Madu Tingkat Empat secara gratis. Kabar tersebut tidak didapatkan Alina secara instan. Alina harus melalui proses yang cukup pahit dan Alina ingin menyimpan kepahitan itu sendiri tanpa diketahui Ibu Peri. Alina berpikir bahwa ia bisa memberi kejutan pada Ibu Peri jika berhasil nanti. Sayang, Ibu Peri tidak sabar. Tapi Alina juga salah, sifat tertutup Alina membuat Ibu Peri berpikir yang tidak-tidak. Siapapun akan berpikir demikian jika melihat Alina. Alina si pemalas dan tak berguna.
Kini Alina pergi mengembara ke tempat Sekolah Akademi madu berasal. Meski bernama Sekolah Akademi Madu, disana Alina tidak hanya belajar cara membuat madu dengan kualitas yang baik. Disana, Alina juga belajar cara memaknai hidup, bahwa hidup adalah sebuah proses dan ada banyak rentetan kegagalan di dalamnya. Dalam sebuah cawan yg bernama kehidupan, ada banyak bunga-bunga indah dengan karakteristiknya masing-masing. Mereka tidak harus mekar secara bersamaan karena tiap bunga memiliki waktu ‘mekar’ sendiri. Tidak harus serentak, karna ini bukan perlombaan. “Semua akan indah pada waktunya, semua akan mekar pada waktunya dan jangan pernah menganggap remeh proses mekar sebuah bunga” guman Alina tersenyum sembari melanjutkan mencari nektar.
Kemudian Alina merasa ada sebuah tangan yang menepuknya dari belakang, lama-lama tepukan tersebut berubah menjadi goncangan. Ah, ternyata Alina ketiduran dan ayahnya membangunkannya. Hoalaah ternyata Alina hanya bermimpi di siang bolong. Dasar Alina si tukang tidur. Kebo sekali si Alina ini aaaargggghhhhh 😩
Tapi tunggu dulu. Bukannya ayah Alina telah pergi ? Lalu siapa yg membangunkannya ?
The end-
🎶 : All by myself-Celine Dion
[Only a fiction]
Coming (Not really soon) Alina series
- Alina dan Ayah Kesatria
- Alina dan Kutukannya
- Alina dan Kakak-kakak Malaikat
Alina... Seekor lebah madu Pemilik hidup hitam-hitam Bermata kelabu Melihat abu-abu Bertakdir sendu Sering tergugu Bernyanyi tersedu Rinti...
-
Alina... Seekor lebah madu Pemilik hidup hitam-hitam Bermata kelabu Melihat abu-abu Bertakdir sendu Sering tergugu Bernyanyi tersedu Rinti...
-
Poland, 26th of October 2021 This story happened when I just arrived in Poland for about 2 weeks. ( Personal documentation ) During the ...
-
Alina is a honey bee who was living with the Fairy Godmother since her childhood. The Fairy Godmother took care of her really well, and...




